Membahas pergulatan antara Bahasa Melayu dan Bahasa Sanskerta di Nusantara sebenarnya bukan sekadar membahas tata bahasa atau kosakata. Ini adalah kisah tentang dua cara pandang dunia, dua strategi bertahan hidup, dan dua jalur agama yang membentuk identitas bangsa ini.
Pada satu sisi, kita punya Bahasa Sanskerta. Dalam sejarah Nusantara, Sanskerta adalah "bahasa elit". Ia hadir bersamaan dengan gelombang pengaruh Hindu dan Buddha. Sanskerta adalah bahasa mantra, bahasa prasasti, dan bahasa istana. Ia indah, puitis, dan penuh wibawa. Namun, karena sifatnya yang eksklusif dan terikat pada struktur kekuasaan (kerajaan dan kasta), ia terjebak dalam menara gadingnya sendiri. Sanskerta menjadi bahasa upacara—bahasa yang sangat dihormati, tapi tidak pernah menyatu dengan denyut nadi masyarakat kelas bawah. Inilah yang menyebabkan Sanskerta akhirnya mengalami nasib "hidup segan, mati tak mau". Ketika kerajaan-kerajaan besar yang menopangnya runtuh, bahasa ini pun ikut terkubur dalam buku-buku kuno dan prasasti, kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi hidup.
Di sisi lain, muncul Bahasa Melayu. Jika Sanskerta adalah bahasa untuk "dewa dan raja", maka Bahasa Melayu adalah bahasa untuk "manusia". Bahasa ini tidak lahir di kuil-kuil, melainkan di dermaga, pasar, dan jalur-jalur perdagangan. Ia adalah bahasa yang demokratis, egaliter, dan tidak mengenal kasta.
Kekuatan utama Bahasa Melayu kemudian menemukan momentumnya ketika ia beririsan dengan dakwah Islam. Islam yang masuk ke Nusantara membawa semangat yang sejalan dengan karakter Bahasa Melayu: inklusif dan terbuka. Islam tidak butuh bahasa yang rumit untuk menyampaikan pesannya kepada rakyat jelata. Bahasa Melayu menjadi kendaraan yang sempurna untuk syiar agama, pendidikan di pesantren, dan transaksi perdagangan antar-pulau.
Karena itulah, Bahasa Melayu mampu "beranak pinak". Ia tidak takut kotor. Ia menyerap kata dari mana saja—dari Arab, dari Sanskerta, dari Portugis, hingga Belanda—tanpa pernah kehilangan jati dirinya. Ia menjadi bahasa yang "hidup" karena ia dipakai untuk menawar harga ikan di pasar, untuk menulis surat cinta, untuk berdebat di kedai kopi, hingga untuk merumuskan hukum adat. Bahasa Melayu tidak memposisikan diri sebagai bahasa sakral yang harus dijaga kemurniannya, melainkan sebagai bahasa fungsional yang harus terus berkembang.
Pada akhirnya, sejarah membuktikan bahwa bahasa yang menang bukanlah bahasa yang paling "indah" atau "agung" menurut selera sastrawan, melainkan bahasa yang paling berguna bagi kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ketika Bahasa Sanskerta berhenti di ambang pintu pura sebagai simbol status, Bahasa Melayu masuk ke setiap rumah rakyat, mengakar melalui ajaran agama dan interaksi sosial yang dinamis.
Bahasa Melayu menang karena ia adalah bahasa yang tidak pura-pura. Ia jujur pada fungsinya sebagai alat komunikasi, bukan sekadar simbol prestise. Inilah alasan mengapa sampai hari ini, kita tetap berbicara dengan struktur Melayu, sementara Sanskerta hanya kita comot sesekali saat kita butuh istilah yang terdengar sedikit lebih elegan atau "keren".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar