Halaman

Kamis, 21 Mei 2026

Pembangunan BRT (Bus Rapid Transit) Kota Medan

 

Judul Video Deskriptif untuk SEO

Pembangunan BRT (Bus Rapid Transit) Kota Medan

sbc24 About Us

SBC24: Sumut Broadcast


Pembangunan BRT (Bus Rapid Transit) Kota Medan atau yang dikenal sebagai BRT Mebidang (Medan - Binjai - Deli Serdang)—adalah proyek strategis berskala besar untuk membangun sistem bus jalur khusus modern yang terintegrasi di kawasan metropolitan Sumatera Utara.
Proyek ini merupakan *pilot project* nasional yang digarap oleh Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemko

Medan, dengan dukungan pendanaan langsung dari Bank Dunia (World Bank).


Tujuan utamanya adalah memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal demi mengurai kemacetan parah di Medan dan sekitarnya.

Karakteristik dan Fakta Utama Proyek

Sistem ini didesain mirip dengan konsep Transjakarta di Jakarta atau Jaklingko, dengan beberapa keunggulan utama:
Jalur Khusus (Dedicated Lane):
BRT ini akan memiliki jalur sendiri sepanjang sekitar 21 km yang dipisahkan dari kendaraan lain. Tujuannya agar bus terbebas dari macet dan waktu tempuhnya bisa diprediksi secara akurat.
Armada Bus Listrik:
Ramah lingkungan menjadi fokus utama. Bus yang digunakan direncanakan berbasis listrik untuk menekan emisi karbon di perkotaan. Saat ini Pemko Medan terus mengupayakan penambahan armada hingga target total ratusan unit bus secara bertahap.
Infrastruktur Masif:Total ada sekitar 433 titik halte yang akan dibangun di wilayah Mebidang (seperti di kawasan Simpang Limun, Jl. Sisingamangaraja, dll) yang didanai lewat APBN. Tiga depo utama juga dipersiapkan di Terminal Amplas, Terminal Pinang Baris, dan Tanjung Sari.
Integrasi Angkot (Feeder):
Angkutan kota (angkot) yang sudah ada tidak akan digusur, melainkan diintegrasikan sebagai *feeder* (bus pengumpan) yang bertugas mengantar penumpang dari pemukiman menuju halte utama BRT.
Target Operasional:
Proses konstruksi fisik halte dan jalur sedang dikebut, dengan target operasional bertahap dan diharapkan selesai sepenuhnya pada tahun 2027.

Tantangan dan Dampak saat Ini

Sebagai warga Medan, Anda mungkin melihat beberapa dampak fisik dari pembangunan ini di lapangan:
1. Dampak Lalu Lintas: Adanya pagar proyek pembangunan halte di beberapa titik jalan utama yang sempat memicu penyempitan jalur.
2. Penataan Lingkungan:Untuk melebarkan jalan dan membangun halte, ada sekitar 2.700 pohon di badan jalan Kota Medan yang terpaksa ditebang atau direlokasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Medan berkomitmen menggantinya dengan menanam kembali hingga 61.000 pohon baru dalam kurun waktu satu tahun ke depan guna menjaga fungsi ekologis kota.
Secara keseluruhan, proyek ini akan mengubah wajah transportasi publik di Medan menjadi jauh lebih modern, aman, nyaman, dan teratur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar